Rabu, 27 Oktober 2010

HIDUP NEGERI KAMI

Negeri kami adalah hidup antara kota kota
yang di dalamnya terdapat taman bunga
engkau bisa memetiknya sesuka hatimu

Negeri kami adalah hati yang banyak penduduknya
udara bebas dan pasir berlian tak terhingga
aneka rupa warna rumput hijau sampai pepadian dan lautan yang luas
engkau bisa melihatnya di pematang huma
engkau boleh memetiknya dengan suka cita,
tapi tidak memungutnya
ME-MU-NGUT-NYA !

Siapapun engkau duhai !
Raja manusia atau raja singa sekalipun tak gentar
kami mengadah dagu
kalian coreng kami dengan suara belati
mengoyak paru-paru kami dengan nganga serigala
diam-diam curi tarian kami menjadi surga di rumahmu
dalam diam mencuci bersih laut kami
merusak penduduk kami menjadi kebodohan terpanjang sepanjang zaman
membunuh orang-orang kami dengan nyala racun duri

Hidup negeri kami kini terkikis
kami tak akan sadar sebab pemimpin kami ada yang seperti wajahmu
mereka lebih suka bermanis muka menopang dagu
menjilat penduduknya dan memeras tangis kami

Kami tidak akan marah dengan cara binatang setiap kali engkau menghajar kami
menyentuh bagian yang tak seharusnya kau sentuh

" kami hanya bisa berfikir, itu pun tak punya nyali "

Negeri kami adalah hidup yang selalu terkenang
yang di dalamnya sejumlah penjilat dan rasa lapar
engkau bisa membacanya di genangan airmata kami .





Rudy prayala
jambi, 5 desember 2009

KUPU-KUPU

Memandang kupu-kupu
ditanganmu indah sekali
lagi mempesona
sedang tanganku
masih ulat diatasnya

selalu ku bertanya
kupu-kupu darimana kau dapatkan
ingin pun ku membelai di
pelupuk mata atau
pelipur lara antara tidur dan jagaku

Alangkah indah warna mu kau miliki
bertanya hatiku dimana kau membeli atau kebun mana dipetiknya

Ya Allah,
kepompongku belum berubah jua
sementara tubuhnya basah airmata
cucuran curah keinginan
atas derak-derak kesedihan
inikah tanda sayang atau takdir yang berkembang ;

" kupu-kupu ditanganmu adalah sesuatu yang sesungguhnya dititipkan oleh Tuhan "





Rudy prayala
1 juni 2010

DI ATAS KAPAL


Waktu kini adalah yang dinantikan
membasuh diri, kolam angan-angan
gemuruh ombak menyisir sampan kenangan
hendak diapakan hidupku ini

Waktu kita hampir habis
ayo berenang supaya airnya menyatu
badan susah membelenggu pikiran
mati dikandung tanah
semakin kelam, semakin malam

Oi,
masih muda mengapa
airmata jatuh berderai
kian dekat, kian gaduh hati rasanya
sampai tiba di ujung
melabuhkan diri pada kehendak Tuhan
dengan sengaja, atau terpaksa .




Rudy Prayala
Tanjung karang,
1 juni 2010