Selasa, 02 November 2010

GERIMIS PADA KELOPAK MAWAR

Mengenang gelagat tawa yang mestinya kau hirup
di kedalaman embun saat engkau mencuci bunga
masihkah harum itu kau simpan, pril ?

Ah,
aku pasti akan tersenyum melihat tingkahmu tatkala mengumpulkan kelopak mawar
terkadang menyatu, terkadang berpecah
terus menerus membongkarpasangnya
sampai akhir berderai oleh ulah nakal jarimu
mukamu berubah pucat
satu persatu keringat bercucuran dari sarangnya
kau menangis,
sedang senyumku tidak lagi pada tempatnya

Hari hari kau lalui seperti batubatu di udara
kau terduduk lesu
aku masih enggan beranjak dari menatapmu
mata mungil itu tertuju pada kelopak mawar
berserakan disela pangkuan
perlahan basah oleh aliran sungai mengelus pipimu

cintamu seperti hujan
berjatuhan menyentuh hati para dewi
hujanmu adalah keindahan perasaan
merasuk jiwa dipersemaian hari

masih terduduk lesu, menatap layu kelopak mawar
air yang baik ialah air yang tak menginginkan tubuhnya basah
sebab airmata tak cukup menyejukkan hati kita yang tidak selalu basah
masih kau terdiam, pada kelopak mawar .





Rudy prayala
jambi 23 des 09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar